Thank you my Hubby...

11:54:00 Andiani Beauty Journal 0 Comments

Hallo...



Kali ini saya lagi gak share review atau beauty related dulu, lagi pengen bilang makasih sama suami saya yang setia banget nungguin lahiran bulan lalu. 

Sejak kenal dan berpacaran dengan beliau 11 taun lalu, saya sudah feeling that he is the one! Saya juga gak ngerti kenapa bisa seyakin itu. Kemudian kita pacaran 10 taun dan menikah 07 Januari 2018. Lho, katanya He's the one kok menuju ke jenjang pernikahan lama bgt? Ya soalnya kita pacaran dari kelas 2 SMA sampe kita udah sama-sama kerja dan mantap untuk mulai membangun rumah tangga. 

Ternyata kehidupan pernikahan dan pacaran itu beda banget gaes, bukan cuma menye-menye kelonan doang. Kita juga harus mikirin bayar cicilan rumah, listrik, internet dan lain-lain. Itu baru soal financial, belum lagi kalau masalah lain muncul yg harus diselesaikan bersama.

Oh iya kita nih termasuk pasangan yang gak nunda untuk memiliki momongan, makanya begitu nikah ya gak pasang KB sama sekali karena pengennya cepet dikasih momongan gitu lho. Alhamdulillah setelah tiga bulan menikah, Allah mempercayakan kami untuk menjadi orang tua. Saya positif hamil di bulan April 2017.

Di postingan kali ini saya mau berterimakasih sama suami saya, yang dari sejak pacaran selalu bertanggung jawab, mewujudkan keinginan saya jika dia mampu dan mendukung karier juga hobi yang saya tekuni. Bahkan dia provided tools yang saya butuhkan untuk menunjang karier dan hobi saya, ya ngeblog tentang beauty ini. Walaupun dia lebih suka saya bare face dan tidak suka kalau saya memakai lipstik warna merah...tapi dia tetap ok dengan kesukaan saya terhadap dunia kecantikan dan menulis. Selain itu juga dia sosok yang bertanggung jawab dan mau bekerja keras untuk keluarga, lalu dia tipe yang mau maju dengan kariernya lebih baik. Tak heran kariernya melesat cukup cepat, karena orangnya selalu suka tantangan, belajar hal baru dan ingin penghasilan yang lebih tentunya untuk kebutuhan keluarga kami.

Saya sangat berterimakasih kepada suami saya yang selalu mengusahakan yang terbaik untuk keluarga kecil kami, menyediakan tempat untuk berteduh yang nyaman dan lain-lain. 

Ada satu hal yang paling menyentuh dan mengharukan bagi saya, yaitu saat menemani saya melewati proses persalinan anak pertama kami. Saya harus melewati persalinan normal melalui proses induksi terlebih dahulu dan itu rasanya luar biasa sakit menurut saya. Kenapa Induksi? ya, karena kehamilan saya sudah memasuki 40 weeks tapi belum kunjung datang juga gelombang cinta dan belum ada pembukaan. Maka Obgyn saya menyarankan untuk coba induksi, tanggal 2 Januari 2019 saya datang ke Rumah Sakit PMI Bogor untuk check up dan sudah membawa tas persiapan persalinan.

Begitu diperiksa, dokternya bilang saya sudah pembukaan satu dan langsung ruang bersalin juga booking ruangan. Pukul 14.30 saya masuk ruang bersalin namun bukan tempat tindakan ya, suami saya menemani saya di sana dan pukul 18.00 bidan memasukan pil agar rahimnya melunak yang katanya akan bereaksi setelah 6 jam. Fyi, suami saya itu takut sama rumah sakit tapi dia melawan takutnya demi menemani saya melahirkan. 

Lewat dari pukul 12 malam, rasa mules hebat mulai datang tapi intensitasnya masih jarang...lalu jam 7 pagi obgyn saya datang untuk cek pembukaan, yang ternyata baru bukaan 3. Semalaman itu suami saya nemenin buat pijet dan pelukin saya pas mules-mules tapi saya masih bisa tahan saat itu. Kemudian sekitar setengah 9 pagi, ketuban saya pecah...sontak suami saya berlari ke bidan dan bidan memindahkan saya ke ruang tindakan untuk induksi lewat infusan.

Ya Allah, setelah di infus rasa mules hebat banget sakitnya sampe saya nangis-nangis dan pegangin terus suami saya. Dua jam kemudian mama mertua datang buat gantian nemenin saya, sambil dzikir dan atur nafas...karena setiap gelombang cinta datang saya rasanya ingin ngeden dan teriak. Suami saya tidak tega melihat saya kesakitan, dia terlihat stress dan berkali-kali menawarkan apa mau operasi sesar saja? tapi saya gak mau karena udah terlanjur sakit bangetlah itu gelombang cinta ya Allah. Sampai sore jam 3 an pembukaan belum lengkap juga, saya sudah gak karuan nangis dan teriak...saya melihat suami saya meneteskan air mata dan saya menyeka nya. Sungguh terharu kalau inget momen itu, segitu sayangnya dia sampe gak tega melihat saya kesakitan. Mama mertua saya juga terlihat panik dan kasihan melihat saya kesakitan, beliau berusaha untuk semangatin saya terus dengan bimbingan doa, dzikir dan ajarin atur nafas. 

Jam 5 sore akhirnya pembukaan9 dan rasa mules udah gak bisa ditahan lagi, sambil menunggu obgynnya datang. Bidan menyiapkan peralatan dan menyuruh saya untuk mulai mengejan, suami dan ibu mertua saya menyaksikan proses tersebut. Bahkan suami sempat pegangin kaki saya untuk posisi yang benar, lalu jam 6 kurang obgynnya datang dan saya siap untuk mengejan lagi. Sekitar jam 6 lewat 10 dengan beberapa kali mengejan, lahirlah putri pertama kami. 

Suami saya menyaksikan keluarnya kepala bayi sampai saya dijahit, gila sih terharu dan makin sayang banget! Dia bener-bener mau nemenin dari awal sampe akhir proses persalinan. Saya tahu dia pasti stress banget saat itu, tapi semua terbayar dengan lahirnya putri kami. Saya sangat berterimakasih dan bersyukur punya suami dan mama mertua yang setia menemani saya saat proses persalinan, tak lupa juga restu dari mama saya yang berdoa dari jauh.


Buat suami saya, terimakasih ya kamu selalu setia dan mendampingi istrimu yang cranky dan super manja ini. Semoga kita selalu saling menyayangi, kompak dalam mendidik anak dan melindungi saya sampai maut memisahkan. Amiiiiin...

You Might Also Like

0 komentar:

Hallo...Thank you for visiting my Blog. Yuk tinggalin komen hore nya disini, biar kita makin akrab. Jangan pakai link hidup atau iklan ya!